Tampilkan postingan dengan label Morning Break. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Morning Break. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Maret 2014

Mengapa Anak Bandel

Judulnya memang rada menyeramkan, seorang ibu harus hati-hati ketika mengatakan "bandel" sebagai embel-embel di belakang kata anak. 

Kata-kata adalah doa, pun demikian ketika sedang berkata kepada anak. Yup, aku harus membiasakan diri untuk berkata-kata baik kepada anakku ataupun anak orang lain. Materi postingan kali ini *terinspirasi  morning break tadi bersama suami. 

"Mengapa anak bandel", dan aku menjawab sendiri. "Kurang kasih sayang, kurang perhatian" aku tidak membayangkan Faiz, anakku. Tapi aku lantas menghubungkan dengan...
"Mengapa seorang istri bandel? mengapa karyawan bandel?". Takut menganalogikan ke anak sendiri ataupun diri sendiri. Seorang karyawan yang aku bahas, yup sebuah contoh untuk penjelasan yang paling aman.
Seorang karyawan bersifat membandel, bisa dipastikan ada faktor x selain faktor dari dalam diri sang karyawan tersebut. Ambil contoh, atasannya tidak memberikan perhatian, peraturan dari perusahan yang tidak memperhatikan kebutuhan karyawan. Bisa jadi karyawan tersebut, telah terlebih dahulu memberikan perhatian / menerima begitu saja atasannya, namun jika terlalu lama tidak dibalas oleh atasannya, pilihan membandel sebagai senjata terakhir.

 Bagaimana dengan anak? aku alami sendiri *uhuuy akhirnya mengaku. Beberapa bulan lalu adalah periode paling berat buat aku. Kehamilan ke dua ini, rasanya sangat berbeda dengan hamil kebonya Faiz. Mual dan susah makan menjadi alasanku untuk meratapi diriku sendiri, tanpa memperhatikan Faiz. Hasilnya? Faiz semakin menjadi-jadi di rumah dalam hal; ngambek, melawan, meminta sesuatu dan heboh dech pokoknya.

Nah, tadi pagi...aku memikirkan hal tersebut, aku intropeksi beberapa minggu terakhir, suasana di rumah sangat-sangat kondusif. Yup, aku menghilangkan meratapi diri sendiri dan menyibukan diriku bersama Faiz, and then? Faiz bisa diajak bekerja sama. 

Jadi intinya? aku tetap membenarkan morning break tadi. Bahwa setiap anak yang bandel atau bertingkah mendekati bandel, bisa jadi yang perlu intropeksi adalah orangtuanya atau lingkungan di sekitarnya. Semoga dengan apa yang telah aku alami, dalam hitungan dua bulan ini, aku mampu bersabar dan lebih bijak bersama anakku.